Deputi Kementerian PMK Apresiasi Inovasi Beras Sehat Desa Kukuh

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kementerian PMK RI, Dr. Sonny HB Harmadi (kiri) bersama Assdep Pembangunan Masyarakat, Mustikorini Indrijatiningrum berkunjung ke Subak Jaka, Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Rabu (28/8).

MARGA - Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kementerian PMK RI, Dr. Sonny Harry Budiutomo Harmadi bersama Asisten Deputi Pembangunan Masyarakat, Mustikorini Indrijatiningrum berkunjung ke Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Rabu (28/8). Rombongan diterima Camat Marga I Gusti Agung Alit Adiatmika bersama Perbekel Desa Kukuh I Made Sugianto. Dr. Sonny mengapresiasi inovasi Desa Kukuh di bidang pertanian dengan produk beras sehat natural.

Rombongan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan berkunjung ke Desa Kukuh untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) penguatan usaha ekonomi masyarakat BUMDes Kukuh Winangun dan PIID PEL. Perbekel I Made Sugianto, mengatakan Desa Kukuh sejak tahun 2016 melakukan inovasi dalam bidang pertanian setelah mendapat bantuan dari Pemkab Tabanan dalam program Gerbang Pangan Serasi (GPS). Melalui GPS, Desa Kukuh membentuk kelompok tani beranggotakan 62 orang dengan luas lahan untuk pertanian ramah lingkungan seluas 10 hektare (Ha). Anggota kelompok tani berkomitmen menggunakan pupuk organik dan meninggalkan pupuk kimia. Maka Pemkab Tabanan berikan bantuan 10 ekor sapi dan bibit padi.

Pada tahun 2018, jumlah kelompok tani untuk pertanian ramah lingkungan sebanyak 138 orang dengan tambahan luas lahan 13 Ha. Pemkab Tabanan kembali berikan bantuan sapi 20 ekor dan bibit padi. Sementara gabah yang dihasilkan oleh petani dibeli oleh Pemkab Tabanan. Gabah petani dibeli dengan harga Rp 5.800 per kilogram. Beras yang dihasilkan diberinama Beras Sehat Natural. Menurut Sugianto, pertanian ramah lingkungan menguntungkan petani. Jika harga gabah pertanian konvensional dibeli Rp 3.800/Kg, gabah ramah lingkungan dibeli Rp 5.800/Kg. Dari tahun 2016 hingga panen di tahun 2019 sudah ada peningkatan produksi. Sebelumnya hasil pertanian dengan ramah lingkungan 4-5 ton/Ha, kini 5-6 ton/Ha.

Selain harga gabah lebih tinggi, biaya selama satu panen juga lebih murah dengan pertanian ramah lingkungan. Sebab tidak beli pupuk kimia, tinggal mengolah kotoran dan urine sapi. “Keuntungan buat petani yakni harga gabah lebih mahal, biaya perawatan lebih murah, dan tanah makin subur,” ungkap Sugianto. Dengan pertanian ramah lingkungan, estimasi efisiensi biaya produksi Rp 1.600.000 per hektare sekali panen. Perhitungannya, biaya pertanian konvensional Rp 7.140.000/Ha sedangkan pertanian ramah lingkungan Rp 5.540.000/Ha. Ditambahkan, anggota kelompok tani juga diajarkan buat pupuk cair dan pupuk padat menggunakan kotoran dan urine sapi. Mengingat jumlah ternak sapi masih terbatas, petani masih mendatangkan pupuk organik yang difasilitasi oleh BUMDes.

Akhirnya pada tahun 2018, Desa Kukuh mendapat kucuran dana Rp 1,2 miliar lebih dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui program Pilot Inkubasi Inovasi Desa – Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL). Kucuran dana ini telah dimanfaatkan oleh kelompok tani untuk beli power thresher, timbangan, latihan membuat pupuk, dan pengadaan bibit. Rencana berikutnya beli mesin pengering gabah, pembangunan gudang pengering gabah, pembangunan rumah produksi pupuk organik, dan pengadaan sarana pertanian. PIID-PEL ini bermitra dengan BUMDes Kukuh Winangun dan Perusahaan Daerah Dharma Santika (PDDS) sebagai caretaker.     

Melalui BUMDes, gabah petani dibeli kemudian diolah dan dipasarkan oleh Perusahaan Daerah Dharma Santika. Sugianto berharap dengan kucuran dana PIID PEL, gairah petani di Desa Kukuh semakin tinggi untuk beralih ke pertanian ramah lingkungan. “Kami juga berjuang untuk mendapatkan sertifikat organik,” ungkap Sugianto. Sementara Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kementerian PMK RI, Dr. Sonny Harmadi mengapresiasi inovasi pertanian yang digagas masyarakat Desa Kukuh. Dr Sonny pun mengajak perbekel dan masyarakat Kukuh untuk terus bermimpi dalam pembangunan di desa.

Dr. Sonny sarankan perbekel untuk melakukan ekspansi pasar lebih luas. Tidak hanya mengandalkan BUMDa. Trik pasar online juga mesti dicoba. Pada kemasan beras sehat natural disarankan untuk mengisi komposisi kandungan beras yang dijual. Sebab masyarakat modern akan lebih tertarik mengeluarkan uangnya jika komposisi kandungan beras sesuai yang diinginkan. “Pemasaran jangan hanya mengandalkan BUMDa, harus ekspansi pasar lebih luas. Masyarakat dengan gaya hidup sehat berani beli mahal untuk produk organik,” tegasnya. mas

Komentar