Kids Zaman Now

Cover buku Kids Zaman Now terbitan Pustaka Ekspresi

PERNAHKAH Anda mendengar isitilah generasi X, Y, atau Z? Saya yakin Anda pernah mendengar istilah itu meskipun hanya sepintas baik itu dari televisi, radio, media cetak atau bahkan dari obrolan-obrolan. Sekarang entah dari mana asal usulnya kata “Kids Zaman Now”, semakin viral saja di media sosial. Konon “Kids Zaman Now” adalah mereka yang disebut Generasi Z, lahir rentang tahun 1995-2010. Karl Mannheim (1893-1947) dalam esainya berjudul “The Problem of Generations” (1923) mengatakan, bahwa sebuah generasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari individu, yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, kemudian berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu kurun waktu yang sama pula. Menurut Daniel Tumiwa, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Pesik dan Founder Indonesia E-Commerce Association (idEA), dari kelakuannya, di bawah ini adalah ciri kaum millennials seperti yang dipahami.

1. Gak suka produk massal

Dengan kemampuan menguasai teknologi media, anak zaman sekarang cenderung menghindari produk massal. Mereka semua pengen tampil beda dari yang lain. Ini artinya ketika mereka membutuhkan sesuatu ada kecendrungan sesuatu itu biar beda, walau tidak tahu dari segi mutu bahkan kebermanfaatan. Simaklah dimana-mana berdiri swalayan. Di pinggiran jalanan bertebaran distroyang memanjakan mata anak muda.

2. Sukanya produk artisan

“Anak-anak muda lebih suka produk unik, produk artisan, atau produk yang punya nilai lebih,” tutur Pak Ricky. Contohnya, kopi. Anak-anak muda zaman sekarang engga lagi suka nongkrong di franchise kopi modern. Kini, sebagian besar lebih suka mengonsumsi dan pamerin kegiatan mereka di warung kopi unik. “Itu kan sebabnya Kopi Tuku bisa laku,” tambahnya. Pemikiran anti-mainstream itu juga dipakai dalam milih ponsel, pakaian, tempat liburan, dan perilaku sehari-hari.

3. Gampang terdistraksi

Kata Pak Daniel Tumiwa, cuitan, komenan, dan segala jenis ocehan di internet kerap mengalihkan perhatian anak-anak muda dari hal yang sedang dilakukan di luar dunia digital. “Zaman saya muda, engga ada ponsel dikeluarkan dari kantong saat rapat. Sekarang, anak muda pada main ponsel kapanpun di manapun,” kata Daniel.

4. Kecanduan e-dagang

Apakah kamu ngerasa senang saat buka pembungkus barang belanja online kamu yang akhirnya datang juga? Apakah kamu merasa tertarik beli lagi? Apakah iklan di medsos mendadak bikin kamu pengen belanja? Kalau iya, kamu termasuk millennials seperti kata Pak Daniel. Itulah yang menghantui generasi milline sekarang. Mereka ngumpet di rumah main gadget salah satunya memburu toko-toko online yang menawarkan berbagai assesori yang bisa memanjakan hidupnya. Logika apakah ortu punya uang atau tidak itu urusan lain kali dan lain waktu. Aaaahhhhh..... susah juga.

5. Fokus kalo udah ada mau

Namun begitu, anak muda punya kemauan yang terbilang tinggi kalo udah pengen sesuatu. Contohnya jelas dalam urusan berbisnis. Kalo orang jaman dulu cenderung banyak mikir ketika ingin buka usaha rintisan, anak zaman sekarang berani langsung hajar. Rock n roll aja dulu. Tapi cara hantam kayak gini ternyata banyak menghantar anak muda sukses buka autlet atau lapak berjejaring. Dan ini sangat diharapkan oleh pemerintah, sehingga lahir pengusaha muda yang tangguh dari hempasan tekanan ekonomi global.

6. Generasi yang mempertanyakan

Sebagai generasi yang memperoleh pendidikan hingga tingkat universitas, generasi muda terbiasa ngasih makan otaknya dengan ilmu. Karena itulah, anak muda selalu mempertanyakan berbagai hal. “Saat anak muda disuruh bikin PR sebelum main, dia akan berkata: kenapa gak main dulu lalu bikin PR?” tutur Daniel. Anak-anak sekarang tidak mudah digiring pada opini apalagi berbau tahyul seperti untuk menakut-nakuti. Mereka akan selalu mengejar dengan pertanyaan, pernyataan, permintaan bahkan pembuktian dari apa yang ortu sampaikan. Maka berhati-hatilah berkomunikasi dengan anak.

7. Pastinya kecanduan medsos

Bisa diibaratkan, hidup anak muda tuh dari dan untuk medsos. Selera konsumen terbentuk karena foto dan video kece yang nampak di instagram. Lokasi jalan-jalan dipilih berdasarkan vlog youtube. Terus, sebagian pola pikir terbentuk dari ocehan orang-orang nyeleneh di twitter. Semua pengaruh itu diserap untuk kemudian dikembalikan lagi ke medsos dalam bentuk postingan. Sepatu baru? Foto dulu biar dapet jutaan likes. Habis jalan-jalan? Upload dulu vlognya ke youtube. Habis nemu quotes? Upload ke twitter, ah.

8. Pemalas….…tapi, kreatif

Pak Daniel bilang, anak muda pada pemalas. Semuanya mau yang instan. Dalam posting foto ke medsos aja, maunya dapet banyak likes dalam waktu cepat. Dimana-mana penyakit anak muda kayak pemalas ini muncul. Mereka ingin yang serba instan. Memang kemajuan pasilitas kehidupan sekarang ini cendrung menurunkan kreatifitas anak muda. Karenanya anak-anak harus lebih banyak diajak untuk mempraktekkan fasilitas yang kita berikan untuk merangsang kreatifitas mereka. Kemalasan anak-anak muda diiringi sama kreativitas yang tinggi. Pak Daniel becanda gini, “Bayangin Nadiem Makariem mager nyari makan karena lagi fokus main game. Untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dia bikinlah Go-Food dan Go-Jek.”

10. Menularkan pengaruhnya ke orang tua

Pendapat terakhir ini pendapat Genmuda.com berdasarkan survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, pengguna internet di Indonesia ada 132,7 juta orang. Sebanyak 56,7 jutanya berusia 10-34 tahun. Masih usia muda. Dengan gaya hidup serba upload apapun, kapanpun, dan di manapun, secara gak langsung orang tua juga terpengaruh gayanya anak-anak muda. Buktinya, tuh muncul istilah “Kids Zaman Now.”

Kata Gaul yang Tren Diucapkan Kids Zaman Now

Namun belakangan ini, muncul lagi kata-kata yang tiba-tiba hits. Kali ini bukan istilah baru, melainkan kosa kata bahasa Indonesia yang sebelumnya cuma biasa kita temui di artikel-artikel serius, dan sekarang sering muncul di status dan komentar di media sosial, sehingga lebih kekinian. Mungkin JB’ers juga pernah atau sering menggunakan kata-kata ini. Berikut ini kata-katanya.

1. Faedah Berfaedah

Sebelumnya, kata “faedah” biasa dipakai dalam ceramah atau anjuran-anjuran orang tua saja, tapi sekarang anak muda sering banget makai kata ini. Artinya, keuntungan, guna, atau manfaat. Misalnya, “Ngapain sih kamu ikut bimbel, emang ada faedahnya?” atau “Hapemu nggak ada pulsa, nggak ada faedahnya juga dipake.” Uniknya, kata ini suka dimodifikasi. Untuk menyebut sesuatu yang nggak ada manfaatnya, banyak yang suka menyebut “nirfaedah” bahkan ada yang menggunakan grammar bahasa Inggris, jadinya, “unfaedah”.

2. Hakiki

Kecantikan yang hakiki. Menurut KBBI, “hakiki” adalah “benar; sebenarnya; sesungguhnya”. Paling sering, kata ini dipakai di “Kenikmatan yang Hakiki”. Nah, di tangan anak muda, kata “hakiki” mulai dipakai di konteks yang lebih luas lagi. Maknanya jadi sama seperti “banget” atau “sangat”. Contoh penggunaannya, “Sungguh pekerjaan rumah yang hakiki.” atau “liburan yang hakiki”. Sering juga “hakiki” disingkat jadi “hqq”.

3. Terciduk

Kata “ciduk” sering muncul di berita. Misalnya, “Polisi Ciduk 10 Aktivis” atau “KPK Ciduk Pejabat X.” KBBI menjelaskan bahwa “Ciduk” artinya adalah “mengambil untuk ditahan.” Anak-anak muda sering gunakan kata ini di banyak situasi. Misalnya, “Wayoloh, keciduk guru BK.”, “Duh, aku tercyduk pacar lagi ngepoin timeline calon gebetan nih.” Memang kini kata ciduk kerap dimaknai sebagai ketahuan, kegep atau kena razia. Terkadang terciduk dituliskan jadi tercyduk atau tercyduck biar lebih Inggris.

4. Goals

Kata satu ini hits setelah kata “relationship goals”. Istilah “goals” sering dipakai untuk menyebut pencapaian di suatu bidang. Kemudian muncul istilah “squad goals” yang artinya tim atau geng yang inspiring sehingga kita juga pingin memilikinya. Pokoknya, sekarang ini istilah goals bukan cuma sering disebut komentator bola, karena anak-anak muda banyak yang menyebutnya.

5. Panutanku

Kebiasaan kita melihat cerita kehidupan di media sosial, ternyata bikin kita jadi punya kecenderungan untuk mengidolakan mereka. Nah, sekarang ini yang dipakai bukan kata “idola”, melainkan “panutan”. Kadang, ada juga yang pakai kata “junjungan”. Misalnya, “Kamu emang junjunganku banget deh. Keren!”. Jika dihitung kemudian, anak-anak Generasi Z (oleh Bill Gates disebut i-Generation) saat ini memiliki rentang usia antara 7-22 tahun. Secara demografis, merekalah yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada perguruan tinggi. Data demografis menunjukkan pada tahun 2010, sekitar 19 persen penduduk Indonesia adalah anak yang umurnya di bawah sepuluh tahun, sekitar 37 persen di bawah dua puluh tahun dan sekitar setengah populasi Indonesia berusia di bawah tiga puluh tahun  (www.indonesia-investments.com). Jika total penduduk Indonesia adalah 258 juta orang (proyeksi BPS dalam www.databoks.katadata.co.id, 2016), maka jumlah penduduk kategori Generasi Z adalah sekitar 90-100 juta orang. Ini adalah angka yang sangat besar. Secara statistik demografis, keberadaan “kids zaman now” sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional. Jika dipilah lagi usia penduduk Indonesia yang kategorinya pelajar berjumlah sekitar 58 juta siswa; 8 juta siswa SMA/sederajat, 50 juta siswa SD-SMP/sederajat (www.antaranews.com, 2012). Sungguh angka yang fantastik tentunya. Jumlah ini hampir setara dengan jumlah penduduk negara Inggris. Pertanyaannya sekarang adalah mau diapakan puluhan juta manusia Indonesia, “kids zaman now” itu? Bagaimana cara kita sebagai sebuah negara-bangsa mendidik, menyiapkan dan memberikan peluang-peluang bagi masa depan “kids zaman now”, yang pada 2045 nanti merekalah yang akan memimpin negara ini? Merekalah sesungguhnya jawaban atas proyeksi bonus demografi Indonesia. Usia produktif yang jumlahnya mendominasi struktur penduduk Indonesia. Itulah “kids zaman now”. *Dewa Nyoman Sarjana

 

Penulis adalah : Kepala SMPN 4 Kediri, Tabanan, Bali.

Komentar